Gue kerja di Jakarta, tapi orang tua masih tinggal di Bandung. Selama ini ritual pulang kampung cuma pas long weekend atau libur panjang, karena males banget kena macet di Tol Cipularang. Tapi bulan lalu gue iseng coba sesuatu: tiap Jumat pulang kerja, gue langsung ke Stasiun Halim dan naik Whoosh ke Padalarang. Sebulan penuh. Hasilnya? Ada beberapa perubahan yang nggak gue sangka-sangka.
Dulu: Pulang Kampung Itu Proyek Akhir Pekan
Sebelum ada Whoosh, perjalanan Jakarta-Bandung buat gue itu setengah hari. Naik bus atau travel, berangkat jam 5 sore, sampai Bandung jam 9 malam kalau lagi beruntung. Kalau kena macet di Cikampek atau padat merayap di kilometer 90-an, bisa jam 11 baru nyampe. Badan udah remuk duluan, jadi sampai rumah cuma bisa rebahan.
Baca juga: Bingung Mau ke Pantai atau Gunung? Panduan Liburan Pertama buat Ibu Rumah Tangga
Yang lebih parah: Minggu sore harus balik ke Jakarta. Artinya waktu bareng keluarga cuma sehari setengah, dan setengahnya kepotong rasa capek di jalan. Selama bertahun-tahun gue nerima itu sebagai "harga" jadi orang rantau. Nggak kepikiran ada cara lain.
Terus bulan lalu temen kantor cerita kalau dia udah sebulan rutin pulang-pergi naik Whoosh. Katanya cuma 45 menit, dan yang bikin gue tertarik: stasiunnya nyambung sama transportasi umum. Gue pikir, ya udah, coba dulu satu kali. Eh, ternyata jadi kebiasaan.
Yang Berubah Setelah Sebulan
Waktu Tempuh yang Nggak Bikin Remuk
Ini perubahan paling kerasa. Jakarta ke Padalarang sekitar 30-40 menit, lalu nyambung kereta feeder ke Stasiun Bandung sekitar 20 menit. Total dari pintu kantor sampai pintu rumah orang tua: sekitar dua jam. Kedengeran masih lama, tapi bedanya, dua jam itu nggak melelahkan. Gue bisa buka laptop, baca, atau tidur beneran. Bandingin sama tiga jam di jalan tol sambil was-was macet.
Efeknya ke fisik lumayan. Sabtu pagi gue bangun nggak dalam kondisi "habis perang". Jadi bisa ikut ibu belanja ke pasar, atau nemenin bapak ngopi. Hal kecil, tapi buat gue yang biasanya cuma bisa rebahan di sofa, ini lumayan berarti.
Dompet Malah Lebih Aman
Ini yang bikin gue kaget. Sebelumnya, tiap pulang kampung naik travel atau bus, gue keluar sekitar Rp150-200 ribu sekali jalan, tergantung jam dan armada. Belum jajan di rest area, belum ongkos ojek dari terminal ke rumah.
Dengan Whoosh, kalau pesan jauh hari, tiketnya bisa jauh lebih murah. Ditambah kereta feeder dan transportasi dalam kota, sekali jalan gue bisa tekan pengeluaran. Dalam sebulan, total biaya transportasi pulang kampung gue turun cukup signifikan. Uangnya gue alihin buat beliin ibu sayur atau traktir keluarga makan di luar. Jauh lebih berguna, kan?
Yang mahal itu bukan tiketnya, tapi kebiasaan jajan di rest area sambil nunggu macet. Begitu nggak lewat tol, jajan pun ikut hilang.
Ritme Kerja yang Ikut Berubah
Ini efek samping yang nggak gue duga. Karena Jumat sore udah di Bandung, Senin pagi gue berangkat lebih awal naik Whoosh pertama dari Padalarang. Sampai Jakarta jam 8-an, masih sempet sarapan sebelum masuk kantor. Dulu, Senin pagi gue selalu datang dengan muka lelah karena baru balik Minggu malam.
Sekarang, Senin gue malah jadi hari yang lumayan produktif. Nggak ada lagi drama "Monday blues" gara-gara perjalanan. Buat gue pribadi, ini perubahan yang paling nggak kepikiran sebelumnya.
Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Ikutan
Gue nggak mau jual mimpi. Ada beberapa hal yang harus disiapin kalau kamu mau coba pola ini.
- Pesan tiket jauh-jauh hari. Jumat sore itu jam favorit semua orang. Kalau pesan mendadak, harga bisa naik dan pilihan jam mepet.
- Hitung waktu transit. Stasiun Halim ke kantor di Sudirman butuh waktu. Jangan pasang jadwal yang terlalu mepet, apalagi kalau harus naik LRT dulu.
- Bawa tas yang praktis. Kalau pulang tiap minggu, jangan bawa koper besar. Ransel atau tas kabin udah cukup, karena kamu bakal naik-turun moda transportasi.
- Cek jadwal feeder. Kereta feeder Padalarang-Bandung punya jadwal sendiri. Kalau kelewatan, bisa nunggu lumayan lama.
Ada juga momen nggak enak: pernah sekali gue ketinggalan feeder karena kelamaan beli kopi. Akhirnya naik ojek online dari Padalarang ke rumah, dan itu nggak murah. Pelajaran buat gue pribadi: kalau udah di stasiun, jangan sok santai.
Buat yang Masih Ragu
Gue nggak bilang ini cocok buat semua orang. Kalau kantormu di pinggir Jakarta yang jauh dari stasiun, atau rumahmu di Bandung nggak deket dari stasiun, hitung-hitungannya bisa beda. Tapi buat pekerja kantoran yang punya keluarga di Bandung dan kantornya masih terjangkau transportasi umum, pola pulang-pergi mingguan ini lumayan masuk akal.
Yang paling gue syukuri setelah sebulan: hubungan sama orang tua jadi lebih deket. Bukan karena ngobrolnya banyak, tapi karena kehadiran gue tiap minggu sekarang terasa rutin, bukan acara istimewa yang harus direncanakan berbulan-bulan. Bapak udah nggak nanya "kapan pulang?" lagi, karena udah tahu jawabannya: Jumat.
Kalau kamu juga pekerja kantoran yang selama ini nunda pulang kampung gara-gara males di jalan, mungkin coba dulu sekali. Nggak perlu langsung sebulan. Satu Jumat aja. Siapa tahu, kebiasaan kecil ini malah jadi perubahan yang paling kamu tunggu tiap minggu.