Gue kerja lepas udah hampir empat tahun. Awalnya seru, tapi lama-lama hari-hari jadi abu-abu. Bangun, buka laptop, kirim file, tidur. Ulang lagi besoknya. Sampai suatu hari gue ngeh, udah tiga bulan gue nggak keluar dari radius 5 kilometer dari kos.
Jadi gue ambil keputusan agak nekat: sebulan kerja sambil pindah-pindah tempat. Bukan liburan, ya. Tetap kerja delapan jam sehari, tetap kirim invoice, tetap meeting online. Bedanya, gue nggak di satu tempat yang sama terus.
Hasilnya? Nggak seperti yang gue bayangkan. Ada yang lebih baik, ada juga yang bikin gue pengen balik ke kos jam dua pagi.
Kenapa Gue Pilih Indonesia, Bukan Bali Lagi
Semua orang kalau dengar "kerja sambil jalan" pasti langsung mikir Bali. Dan itu justru alasan gue nggak ke sana. Gue pengen lihat sisi lain Indonesia yang nggak jadi konten Instagram orang.
Rencana gue simpel: satu minggu di Yogya, satu minggu di Malang, satu minggu di Bandung, sisanya di beberapa kota kecil di Jawa Tengah. Semua masih di Jawa karena gue nggak mau buang energi buat urusan transportasi dan jet lag.
Pilihan ini ternyata tepat. Biaya hidup masih masuk akal, internet lumayan, dan yang paling penting: gue nggak jadi turis yang sok sibuk foto-foto. Gue tetap pekerja lepas yang kebetulan kerja dari tempat berbeda.
Yang Berubah Setelah Sebulan
1. Otak Gue Nggak Lagi Stuck di Satu Pola
Ini yang paling kerasa. Waktu kerja dari kos, gue punya rutinitas yang kaku banget. Jam 9 buka laptop, jam 12 makan, jam 1 balik kerja, jam 6 selesai. Kalau ada masalah di tengah hari, gue stuck.
Pas pindah-pindah, gue dipaksa adaptasi. Kadang harus kerja dari kafe yang ramai, kadang dari penginapan yang kursinya keras. Anehnya, otak jadi lebih lincah nyari solusi. Nggak ada waktu buat ngeluh, karena besok harus pindah lagi.
Ada satu kejadian di Malang, wifi penginapan mati total. Gue akhirnya kerja dari warung kopi kecil, pakai hotspot HP, dan justru selesai lebih cepat dari biasanya. Kalau di kos, gue mungkin udah ngamuk dan nunda kerjaan.
2. Dompet Lebih Tipis, Tapi Kepala Lebih Waras
Ini bagian yang nggak enak diomongin. Kerja sambil jalan itu boros. Transportasi, penginapan, makan di luar, semuanya numpuk. Sebulan itu gue keluar sekitar 40 persen lebih banyak dari biaya hidup normal.
Tapi jujur, gue nggak nyesel. Karena yang gue dapet bukan cuma foto atau cerita. Gue dapet rasa "hidup" yang udah lama hilang. Waktu kerja dari kos, gue sering ngerasa kayak robot. Sekarang, tiap hari ada hal kecil yang bikin gue sadar gue masih manusia.
Kerja lepas itu bukan cuma soal ngatur waktu, tapi soal ngatur ruang. Kalau ruangnya itu-itu aja, kepala juga ikut sempit.
Kota-Kota yang Menurut Gue Paling Worth It
Gue nggak akan bilang ini daftar terbaik se-Indonesia. Ini murni pengalaman pribadi gue sebagai pekerja lepas yang butuh wifi stabil dan makanan murah.
- Yogyakarta — Klasik, tapi nggak pernah gagal. Banyak kafe dengan colokan di mana-mana, dan biaya hidup masih ramah. Cuma hati-hati, godaan buat jalan-jalan tiap hari itu besar banget.
- Malang — Udara sejuk, tempo hidup lebih lambat dari Jakarta. Gue kerja dari penginapan murah di dekat kampus, dan suasananya bikin fokus. Wifi agak naik-turun, jadi siapkan hotspot cadangan.
- Bandung — Pilihan kafe banyak, tapi macetnya bisa bikin stres. Saran gue, cari penginapan di area yang dekat dengan tempat kerja, jangan yang jauh.
- Salatiga — Ini yang paling gue suka dan nggak banyak orang tahu. Kota kecil, tenang, dan biaya hidup murah. Internet cukup buat kerja online. Kalau kamu tipe yang butuh ketenangan, ini tempatnya.
Dari semua kota itu, Salatiga yang paling bikin gue pengen balik. Mungkin karena ekspektasi gue rendah, jadi kaget aja rasanya nemu tempat yang pas.
Hal yang Nggak Gue Duga Sebelumnya
Ada satu hal yang nggak pernah gue baca di blog orang: kerja sambil jalan itu bikin gue lebih menghargai rutinitas. Kedengarannya kontradiktif, tapi iya.
Waktu di kos, gue benci rutinitas. Sekarang, setelah sebulan pindah-pindah, gue justru kangen punya meja tetap. Aneh, kan? Ternyata manusia butuh dua-duanya: perubahan dan kejelasan.
Gue juga jadi lebih paham soal energi. Dulu gue pikir kerja lepas itu soal disiplin. Sekarang gue sadar, yang lebih penting adalah tahu kapan harus berhenti. Di perjalanan, gue belajar buat nggak maksa kerja delapan jam kalau badan udah capek. Kadang enam jam fokus lebih baik dari delapan jam setengah tidur.
Dan yang paling penting: gue nggak lagi ngerasa kerja lepas itu kesepian. Karena tiap hari ketemu orang baru, walau cuma tukang kopi atau resepsionis penginapan. Interaksi kecil itu ternyata ngaruh besar buat kesehatan mental.
Kalau Kamu Mau Coba, Mulai dari yang Kecil
Gue nggak nyaranin kamu langsung booking tiket ke luar Jawa dan kerja dari sana sebulan penuh. Itu resep buat stres kalau belum terbiasa.
Coba dulu satu minggu di kota tetangga. Bawa kerjaan yang sama, tapi ganti lokasi. Rasain dulu gimana rasanya kerja dari tempat yang nggak familiar. Kalau cocok, baru tambah durasinya.
Yang perlu disiapin: internet cadangan, uang lebih buat transportasi, dan mental buat nggak perfect. Karena perjalanan kerja itu nggak akan mulus. Ada hari di mana kamu cuma pengen pulang dan kerja dari kasur sendiri.
Tapi justru di hari-hari itulah kamu belajar banyak soal diri sendiri. Dan buat gue, itu lebih berharga dari sekadar liburan.
Sebulan emang nggak bikin gue jadi orang baru. Tapi cukup bikin gue sadar, kerja lepas nggak harus berarti terjebak di satu tempat. Kamu punya pilihan. Dan pilihan itu, walau kecil, bisa ngubah banyak hal.