Bayi gue umur 8 bulan waktu itu. Dan entah kenapa, gue dan istri memutuskan untuk ikut rombongan keluarga mudik ke Danau Toba — lewat jalur darat dari Medan. Estimasi di Google Maps: 4 jam. Kenyataan di lapangan: hampir 7 jam karena berhenti sana-sini. Belum termasuk perjalanan balik. Total, hampir 14 jam bayi kami duduk di car seat.
Kedengarannya gila? Iya. Tapi ternyata bisa. Dan justru dari perjalanan itu gue belajar banyak hal soal jalan-jalan bareng bayi yang nggak pernah gue temuin di artikel-artikel travel kebanyakan.
Kenapa kami nekat bawa bayi ke Danau Toba
Jujur, awalnya gue ragu. Teman-teman kantor pada nyaranin, "Tunggu aja sampai anaknya TK." Tapi istri gue punya alasan kuat: orang tua kami sudah sepuh, dan momen kumpul keluarga besar kayak gini nggak datang tiap tahun. Jadi ya sudah, kami berangkat.
Dan ternyata, Danau Toba itu salah satu tempat paling forgiving buat keluarga dengan bayi. Udara sejuk, jalanan di sekitar Toba sudah mulus, dan hampir semua penginapan di Parapat atau Tuk-Tuk punya kamar keluarga. Nggak perlu hiking, nggak perlu naik ojek ke tempat terpencil. Cukup duduk manis di tepi danau sambil lihat anak main pasir.
Baca juga: Bingung Mau ke Pantai atau Gunung? Panduan Liburan Pertama buat Ibu Rumah Tangga
Tapi perjalanannya. Oh, perjalanannya. Itu yang bikin gue mau nulis ini.
Yang nggak ada di panduan travel biasa
Sebagian besar artikel soal jalan-jalan bareng bayi itu isinya checklist barang bawaan. Popok sekian, susu sekian, baju ganti sekian. Semua penting, sih. Tapi yang bikin perjalanan kami selamat bukan cuma barang bawaan — tapi ritme.
Berhenti sebelum anak mulai rewel, bukan sesudah
Ini pelajaran paling mahal yang kami dapat. Awalnya kami berhenti kalau bayi sudah nangis. Hasilnya: setiap berhenti, dia sudah overtired, susah ditenangkan, dan butuh 20 menit ekstra buat balik tenang. Total waktu terbuang banyak.
Di perjalanan pulang, kami coba pendekatan lain: berhenti tiap 90 menit, terlepas dari kondisi anak. Kadang dia masih ketawa-ketawa waktu kami berhenti. Tapi begitu masuk lagi ke mobil, dia langsung tidur karena sudah cukup stretch dan kenyang. Perjalanan pulang justru lebih cepat 40 menit dibanding berangkat.
Bayi itu bukan bom waktu yang harus ditakuti. Mereka cuma butuh jeda yang teratur, sama kayak kita.
Spot yang worth it buat keluarga dengan bayi di sekitar Toba
Nih, beberapa tempat yang menurut gue ramah banget buat orang tua baru, berdasarkan pengalaman langsung:
- Pantai Pasir Putih Parapat. Aksesnya gampang, ada warung, ada toilet. Bayi bisa main pasir sambil kita ngopi. Nggak perlu bawa perlengkapan berat.
- Bukit Gibeon, Samosir. Jalannya sudah aspal mulus sampai atas. View-nya luar biasa, dan ada area rumput luas buat bayi merangkak. Tiket masuknya murah.
- Desa Tomok. Kalau mau sekalian belanja suvenir dan lihat rumah adat. Tapi hati-hati, jalannya agak sempit waktu ramai. Bawa stroller lipat yang ringan.
- Pemandian Air Panas Pangururan. Ini favorit gue. Air hangat, ada kolam dangkal, dan bayi kami tidur pulas dua jam setelahnya. Efek relaksasi, mungkin.
Yang perlu dicatat: hampir semua spot ini nggak punya fasilitas nursing room layak. Jadi siapkan nursing cover dan jangan malu menyusui di tempat umum — orang-orang di sana justru ramah dan sering bantu carikan tempat duduk.
Hal-hal kecil yang bikin beda
Satu hal yang gue sesali: kami nggak bawa cooler bag kecil. Susu formula atau ASIP perah jadi cepat turun suhu di jalan pegunungan. Beli satu yang muat 4 botol, harganya nggak sampai seratus ribu, dan itu menyelamatkan banyak momen.
Hal kedua: bawa satu mainan yang belum pernah dilihat bayi. Kami bawa boneka kecil yang baru dibeli di Indomaret pinggir jalan, dan itu jadi penyelamat satu jam terakhir perjalanan. Efek kebaruannya luar biasa.
Dan yang terakhir — ini mungkin klise, tapi beneran: jangan overplan. Kami awalnya bikin jadwal ketat, dan itu yang bikin stres. Begitu kami lepas jadwal dan ikut ritme bayi, semuanya jadi lebih santai. Danau Toba nggak akan ke mana-mana.
Kalau kamu orang tua baru yang lagi mikir-mikir mau bawa bayi jalan jauh, saran gue simpel: mulai dari yang dekat dulu. Coba perjalanan 3 jam, lihat reaksinya. Kalau lancar, baru naikkan jaraknya. Danau Toba bisa jadi tujuan kedua atau ketiga, bukan yang pertama. Tapi percaya deh, begitu sampai dan lihat bayi kamu ketawa-ketawa lihat air danau yang biru, semua drama di jalan itu langsung lunas.